.:: My Digital Breath ::.

Management Server and Client

Posted by agusmen pada April 25, 2007

Teknologi jaringan berkembang dengan sangat sepat akhir-akhir ini. Seiring dengan perkembangan ini, maka perlu adanya manajemen yang baik terhadap infrastruktur jaringan tersebut, agar dapat dimanfaatkan dan berjalan dengan maksimal.

Modul ini berbicara tentang teknologi manajemen jaringan yang ada hingga saat ini, yang dikemas sesuai dengan kebutuhan manajemen jaringan pada infrastruktur jaringan NBIN (National Biodiversity Information Network).

Modul ini terdiri dari 3 bagian, bagian pertama modul berisi pengenalan seluruh perangkat keras dan perangkat lunak yang telah didistribusikan ke masing-masing simpul. Diharapkan akan mengenal lebih mendalam terhadap masing-masing perangkat.

Bagian kedua berisi bagaimana instalasi dan konfigurasi terhadap hardware dan software dilakukan ketika pertama kali perangkat-perangkat tersebut dipasang. Pada bagian ini dijelaskan seperti layaknya SOP (Standard Operations Procedure). Diharapkan dapat dijadikan standar prosedur instalasi dan konfigurasi dimasa mendatang.

Bagian ketiga dari modul ini berisi mengenai manajemen dari keseluruhan perangkat yang difungsikan didalam jaringan masing-masing simpul. Selain manajemen juga berisi penanganan masalah secara detil pada server, client, printer, jaringan LAN dan koneksi Internet.

Disarikan dari Modul Pelatihan : Management Server and Client, yang disusun oleh : Agus Men Riyanto, Ika Atman Satya dan Darius Kabanga, November 2005, untuk pelatihan: Database dan Jaringan Keanekaragaman Hayati-NBIN.

Ditulis dalam TIK | Tinggalkan sebuah Komentar »

Pembuatan Bahan Tahan Api dari Batuan Serpentinit

Posted by agusmen pada April 25, 2007

Batuan serpentinite dari daerah Pomalaa, Sulawesi Tenggara yang didominasi oleh mineral serpentin masih mengandung sejumlah mineral opak berupa magnetit(?). Hasil proses karakterisasi menunjukkan kandungan Fe2O3 batuan ini mencapai 8.80% berat dan merupakan faktor pengganggu dalam proses fosterisasi, karena itu perlu dilakukan proses reduksi oksida hingga kadar 1% berat. Proses pelindian dan pemisahan dengan menggunakan magnetik separator merupakan dua metoda yang dipakai dalam usaha mereduksi kandungan Fe2O3 tersebut diatas.

Media asam HCl dan HNO3 digunakan dalam proses pelindian, sedangkan variabel yang diamati adalah konsentrasi asam, perbandingan pulp, temperatur, kecepatan pengadukan dan waktu penyesuaian, disusun dalam dua level yakni level atas (+) dan level bawah (-). Proses reduksi Fe2O3 dengan magnetik separator dilakukan pada kondisi optimal dengan kemiringan 20 derajat untuk front slope dan side slope, sedangkan variasi medan magnet berkisar antara 0,20 – 0,50 Ampere.

Hasil yang dicapai belum memuaskan, dimana pelindian dengan HCl penurunan kandungan Fe2O3 sebesar 15% sedangkan dengan menggunakan HNO3 penurunan konsentrasi Fe2O3 mencapai 13%. Proses reduksi dengan magnetik separator menurunkan konsentrasi Fe2O3 sebesar 17% pada medan magnet 0,30 Ampere.

Disarikan dari penelitian: Reduksi Fe2O3 dari Batuan Serpentinit untuk Pembuatan Bahan Tahan Api, yang dilakukan pada 1996 yang dilakukan oleh : Eko Tri Sumarnadi, Iskandar Zulkarnain dan Agus Men Riyanto dan dipresentasikan pada Seminar Material pada tanggal 19-20 Agustus 1997 yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Metalurgi-LIPI di Serpong.

Ditulis dalam IPK | Tinggalkan sebuah Komentar »

Batuan Bancuh (Melange) Pulau Laut

Posted by agusmen pada April 25, 2007

Batuan bancuh (melange adalah fenomena geologi yang hanya terdapat pada beberapa lokasi di wilayah Indonesia, seperti di Karangsambung (Jawa Tengah), Ciletuh (Jawa Barat), Bantimala (Sulawesi Selatan) dan di Pulau Laut (Kalimantan Selatan). Batuan jenis ini didefinisikan sebagai campuran batuan yang berasal dari lingkungan pembentukan yang berbeda dan tercampur melalui suatu mekanisme tertentu baik secara tektonik maupun melalui proses sedimentasi.

Batuan bancuh di Pulau Laut tersingkap hanya sepanjang beberapa ratus meter di sebuah sungai di daerah Lok Bulat dekat desa Langkang Baru di luar kawasan perkebunan kelapa sawit di Pulau Laut.

Pengamatan lapangan dan analisis laboratorium menunjukkan bahwa batuan bancuh Pulau Laut ini dibentuk oleh masa dasar lempung tergerus yang sebagian telah mengalami proses silisifikasi dan sebagian lagi telah tergantikan oleh mikrit karbonat. Blok-blok yang terjebak didalam masa dasar lempung tergerus ini dibedakan atas batupasir greywacke, batulanau, rijang merah dan abu-abu, serpentinit, diabas dan dioritik porfir terubah.

Hasil analisis petrografi menyimpulkan bahwa baik proses silisifikasi dan karbonatisasi pada massa dasar maupun proses propilitisasi dan argilitisasi pada batuan diabas dan diorit porfir telah terjadi sebelum proses percampuran batuan yang membentuk Kompleks Melange ini berlangsung.

Disarikan dari Penelitian Geologi Kompleks Melange Pulau Laut, Kalimantan Selatan yang dilakukan pada Juli-Agustus tahun 1996 oleh : Iskandar Zulkarnain, Eddy Zulkarnaini Gaffar, Agus Men Riyanto dan Djoko Trisuksmono.

Ditulis dalam IPK | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.